Selasa, 22 Juli 2008

Smp Al-azhar 3 Bandar Lampung



Perkembangan sekolah-sekolah berbasis keagamaan baik di tanah air
maupun di negara-negara maju akhir-akhir ini adalah fenomena yang
menarik. Di berbagai kota di tanah air bermunculan dengan pesatnya
sekolah berbasis keagamaan, baik itu Islam ataupun Nasrani (Kristen,
Katholik, maupun Advent). Boleh dikata 80% sekolah-sekolah swasta yang baru dibuka adalah sekolah berbasis keagamaan, baik itu di
kompleks-kompleks perumahan mewah maupun di daerah-daerah.
Sekolah-sekolah dengan label SDIT/SMPIT (Sekolah Dasar/Menengah Islam Terpadu) marak didirikan dimana-mana. Sekolah-sekolah berbasis agama Nasrani juga tidak kurang gencarnya dibuka dimana-mana. Saat ini hampir di semua kompleks perumahan atau properti besar berdiri sekolah-sekolah Nasrani. TPA-TPA (Taman Pengajian AlQur’an) dan Sekolah-sekolah Minggu semakin marak. Bahkan sekolah-sekolah negeri dan swasta umum juga mulai menekankan pentingnya peran agama dalam kurikulum mereka. Beberapa sekolah umum mengganti pakaian seragamnya dengan pakaian seragam yang bernuansa agamis seperti rok panjang dan jilbab bagi para siswinya. Di negara-negara maju pun (Australia, Inggris, USA) sekolah berbasis keagamaan tumbuh subur dan semakin banyak peminatnya. Ada apa yang terjadi dengan semua ini? Darimana tumbuhnya kesadaran keagamaan macam ini? Apa peran penting sekolah-sekolah berbasis keagamaan ini di masa depan?


Beberapa ahli berpendapat bahwa gerakan ini merupakan gerakan perlawanan dari masyarakat atau titik balik terhadap paham aterialisme
yang beberapa waktu yang lalu telah mencapai puncaknya sehingga seluruh dunia seolah telah berada dalam genggamannya. Paham ini membonceng pada modernisasi dan melahirkan ‘anak’ pahamnya seperti hedonisme, pornografi, konsumerisme, kultur MTV, dll. Yang disebut oleh Benjamin Barber, seorang ilmuwan politik sebagai ‘The McWorld’.
Masyarakat yang mengagungkan nilai-nilai keagamaan, maupun masyarakat di negara-negara maju yang telah muak dengan ekses paham materialism ini, merasa gerah dengan kehidupan sosial yang sangat sekuler tersebut dan merasa bahwa paham tersebut akan menghancurkan nilai-nilai kepercayaan dasar ataupun nilai-nilai moral universal yang selama ini mereka junjung tinggi. Mereka merasa bahwa paham materialisme telah mencabut akar-akar nilai kepercayaan anak-anak mereka dan mengubah mereka menjadi penganut-penganut paham materialisme dan turunannya, atau populernya di kalangan agamawan disebut ‘murtad’. ‘The McWord’ memang sangat besar pengaruhnya untuk ‘memurtadkan’ generasi muda. Para orang tua dengan cemas melihat betapa anak-anak mereka menjadi hedonistik, permissif, dan terjerat oleh obat bius. Mereka tergila-gila pada para ‘pop stars’ dan tidak pernah kenal dengan para pahlawan, pemimpin ataupun tokoh-tokoh agama mereka. Kultur-kultur yang dibangun di sekolah ‘umum’ selama ini, terutama di kota-kota besar, kalah telak bersaing dengan ‘gemerlap’nya daya tarik ‘The McWorld’. Kecemasan ini mendorong mereka untuk menciptakan suasana-suasana kultural dimana, mereka berharap, bahwa ‘The McWorld’ tidak akan dapat menembusnya. Mereka ingin mendidik anak-anak mereka dalam suasana keagamaan sebanyak mungkin agar pengaruh ‘The McWorld’ tidak mendominasi jiwa anak-anak mereka.